Sejarah Perayaan Hari Buruh & Kisah-Kisah Kuno Seputar May Day
Dede Ari - Satu Mei merupakan hari raya besar kaum buruh dan kelas pekerja progresif yang sadar akan identitas kelas. Hari itu para pekerja menunjukkan solidaritas dengan turun ke jalan, saling menjaga, dan mengingat betapa perjuangan buruh telah membawa banyak perubahan.
Koabad pertengahan masyarakat Inggris dipengaruhi tradisi orang-orang Italia di Roma. Orang-orang di pinggiran Inggris mengumpulkan berbagai bunga yang mekar dan daun segar menjadi karangan bunga. Bunga ini dikumpulkan sebagai pajangan, beberapa digunakan sebagai mahkota untuk gadis-gadis muda desa.
Tradisi pagan memang sangat lekat dalam perayaan satu Mei. Ini yang menyebabkan banyak agamawan menentang perayaan ini sebagai perilaku fasik dan berdosa. Oliver Cromwell, politikus Inggris dari kelompok puritan agama, pada 1660 mengeluarkan aturan melarang perayaan berdansa saat satu Mei. Ia menganggap perayaan itu sebagai kesia-siaan. Charles II, penguasa Inggris yang hidup setelah Cromwell, mengembalikan tradisi itu di London dengan membangun tiang kayu dansa raksasa setinggi 40 meter dan bertahan nyaris selama lima puluh tahun.
Di pusat desa ada tiang dansa besar (Maypole), yang diikat dengan tali atau kain warna warni, tali tersebut panjang dan digunakan untuk berdansa diiringi alat musik. Para pemuda dan pemudi terpilih diminta menari dan dua orang yang beruntung diberi gelar Raja dan Ratu Mei yang memimpin pemuda-pemudi desa untuk menari. Tradisi ini akhirnya dihentikan saat kelompok puritan Kristen menganggap hal ini sebagai ajaran kafir dan terlarang karena menyembah Tuhan pagan.
Satu Mei dalam tradisi pagan Eropa digunakan sebagai hari perayaan di mana musim semi datang. Banyak para pengikut pagan menggunakan kesempatan ini untuk menemukan jodoh dan menikah. Anak-anak muda mencari pasangan saat pesta satu Mei di pusat desa. Mereka berdansa membawakan bunga, dan menari bersama para kekasih seperti yang ada di Ceko, Lituania, Latvia, Swedia, dan Estonia. Di Perancis pada satu Mei 1561 Raja Charles IX mendapatkan bunga lili (Convallaria majalis) sebagai jimat keberuntungan. Ia lantas memutuskan memberikan bunga lili untuk perempuan yang beruntung. Pesta ini diselenggarakan untuk bangsawan dan keluarga kerajaan.
Di Italia perayaan satu Mei dikenal sebagai Calendimaggio, hari itu orang-orang bersyukur atas datangnya musim semi. Mereka bertukar hadiah yang berupa kebutuhan sehari-hari seperti telur, makanan, dan buah-buahan. Perayaan ini masih bisa ditemui ragamnya di kota-kota di Italia seperti Piedmont, Liguria, Lombardy, Emilia-Romagna Tuscany, dan Umbria. Perayaan ini juga dijadikan kesempatan bagi banyak orang Italia untuk berbagi makanan, menikmati anggur, dan keluar rumah.
Di Yunani, satu Mei adalah perayaan dewi Maia atau Dewi Kesuburan. Perayaan ini merupakan rasa syukur karena musim dingin berakhir, ditandai dengan pesta saat gadis-gadis muda menyanyi dengan hiasan rambut di kepala. Tradisi ini muncul sebagai penghormatan terhadap dewa hiburan, puisi, dan anggur Dionysus yang dianggap membawa kebahagiaan.
Perayaan ini sangat erat dengan perayaan untuk dewa pertanian Demeter dan putrinya, Persepon, yang diselenggarakan pada Februari di Yunani kuno. Panen yang baik dipercaya akan menghasilkan anggur yang baik.
Satu Mei memang banyak menjadi momen berbagai perayaan di dunia. Tapi bagi buruh, satu Mei adalah spirit untuk terus memperjuangkan kepentingan dan nasib mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar